Sebuah penggalan dialog dari novel 'Perpustakaan Kelamin' menggelitik di tangan untuk menguraikan jawaban. "Hariang, membaca itu berarti berhutang. Jika kamu menciptakan sesuatu dari yang kamu baca, itu berarti kamu telah melunasinya." ujar Ambu Hariang yang juga mengutip sabda George Christophe Litchtenberg.
Aku berpikir bahwa tulisan ini akan sama isinya seperti bait dalam lagu band ternama indonesia, Peterpan (kini menjadi No,ah), membincangkan lalu lalangnya waktu yang meninggalkan kenangan tawa dan genangan air mata. (Kiiw)
Atau tentang cerita-cerita romansa dua insan muda yang sedang banyak digandrungi. Tapi, aku menepis pikiran demikian. Ini bukan tentang itu, melainkan tentang KITA (Kamu, Aku, dan Buku).
Dimulai dari Buku. Pernahkah kamu membaca buku tentang buku ? konon buku ini ada banyak, tapi aku sendiri belum pernah membacanya, aku hanya tahu ketika suatu novel sedang memperbincangkannya. Zaman dahulu buku termasuk barang mahal, semacam 'gengsi intelektual' tidak semua orang bisa memiliki, tidak semua pesan bisa dibukukan. Biasanya yang dibukukan adalah maklumat raja dan undang-undang, atau pun cerita yang meninggikan kemuliaan raja.
Bagaimana tidak mahal ? saat pembuatannya pun dibuat dengan cara ditulis tangan, dengan susah payah, lama dan terbatas, hanya kaum terpelajar dan kaya saja yang bisa memilikinya. Karenanya benar pepatah bijak bertutur-kata "Hanya orang yang tahu harga-lah, yang dapat Menghargai".
Selanjutnya adalah Aku. Dahulu, aku adalah manusia yang tidak mampu menghargai buku layaknya buku. Entah warisan dari siapa, atau tertular pergaulan teman yang mana, ketika di usia sekolah dasar penghargaanku terhadap buku dapat dikatakan Bibliokas, yaitu kecenderungan untuk menghacurkan buku baik dalam skala kecil atau pun besar. Suatu ketika sedang maraknya musim lipat-melipat kertas menjadi bentuk pesawat yang diterbangkan dengan cara diberi udara (hah) lalu dilemparkan, atau ketika musim origami terjadi, sampul-sampul buku menjadi perhatianku. Al-hasil buku-buku telanjang tanpa baju. Lalu, semasa SMA yang ketika itu metode pembelajaran di kelas memiliki budaya belajar Fuckavorit dengan 'Lembar Kegiatan Siswa' aku mengidap Bibliomania, Pribadi yang senang membeli buku hanya untuk ditumpuk, bukan untuk diambil makna. Hal ini terus berlanjut agak lama sampai memasuki masa pertengahan kuliah, aku senang membeli buku-buku untuk ditumpuk ketimbang dibaca, anehnya ketika buku itu bersumber dari hasil pinjam, aku menuntaskannya dengan tidak berlama-lama, Sungguh aneh ! dan istilah untuk penyakit demikian belum diketemukan.
Penyakit Bibliomania ini ternyata memiliki saudara yang bernama Biblionarsisis, mengoleksi buku-buku yang beredisi lengkap tak terlewat, ditempatkan di rak khusus, hanya untuk berlagak, terlihat keren,legeg, pamer atas buku yang dikumpulkan. Edan !
Semasa SMA pun, aku sedikit mengidap Bibliofagi yaitu memakan buku dalam arti sesungguhnya. Kambuh saat musim ujian, aku berbekal atau lebih tepatnya dibekali (sssst) beberapa carik kertas yang berisikan jawaban-jawaban ujian, ya ujian. Bukan jawaban kehidupan. Kala itu, sosok guru yang bernama lain Pengawas Ruangan memasang tatapan mata layaknya mata elang, menyapu tajam setiap siswa yang sedang diuji bencana, bencana penetapan jati diri (antara niron atau tidak). Berlama-lama dengan menit perjuangan, pikir tak mau dinetralisir terus memanas tak bisa didinginkan terhadap pertanyaan-pertanyaan ujian, dan secarik pun menjelma menjadi sebuah trik. Jawaban mulai terurai tiap soalnya, hasil copy paste manual sianak bengal.
Namun, curang pun tak ber-Tahan lama, melainkan ber-Tuhankan fana, aromanya mulai tercium, terkunci pada radar mata elang yang siap menikam. Sejurus kemudian posisi pengawas semakin mendekat menapaki jalur yang sudah dipeta-kan untuk menerkam buruan. Dan radar kewaspadaanku tak mau kalah berpacu, segera aku sirnakan bukti-bukti atas kebiadabanku pada ilmu dengan menelan carik-carik trik. (Jangan meniru adegan ini, hanya dilakukan oleh anak bengal) :D
Penyakit aneh pun masih menimpa sikapku terhadap buku, kali ini Bibliokleptomania, adalah suka mencuri buku, baik dirumah teman, toko buku, dan perpustakaan. Untuk toko buku mudah-mudahan itu takkan pernah terjadi.
Ceritanya seperti ini, mencuri buku secara sebenarnya, sebetulnya tidak pernah dan takkan pernah. Ini terjadi ketika aku meminjam buku kepada teman atau perpustakaan dengan waktu tak terbatas, tak ada kabar, dan itu bukanlah hal yang wajar, layaknya mencuri.
Kasus Bibliokleptomania sesungguhnya, pernah terjadi yang dilakukan oleh Stephen Carrie Blumberg. Dia adalah pencuri buku kelas kakap, bahkan pencuri paling lihai dan hebat di abad ke-20. Dari perpustakaan yang pemeliharaannya manual sampai paling canggih, telah mampu dibobolnya. Tak tanggung-tanggung, dia telah mencuri buku antik dan kuno sebanyak 23.600 judul dari 238 perpustakaan di 45 Negara bagian Amerika dan Kanada. Ketika ditaksir, seluruh buku curiannya bernilai 20 juta dollar Amerika. Anehnya ia tak pernah mau menjual buku-buku curiannya. Pada tahun 1997, karena penghianatan temannya sendiri, ia ditangkap FBI (Ep Bi Ay), dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman 5 tahun 8 bulan penjara. Edan !
Saat lalu dan sampai saat dimana tak ada lagi yang menciptakan buku, aku berobat dan berTaubat atas penyakit dan sikap penghargaanku terhadap Buku. Aku ingin menjadi seorang Bibliofil yang membeli buku dan mengambil makna sedalam-dalamnya. Atau menjadi Bibliotaf yang menaruh buku seaman-amannya dan berkeyakinan bahwa buku adalah harta yang maha penting. Selain orang yang dipercayai, siapa pun tak boleh menyentuh dan membaca buku-buku-ku. ^_^
Terakhir, adalah kamu ! ^_^ iya kamu, bagaimana ceritamu bersama buku ? Uraianmu akan menggenapkan tulisan ganjil ini., sehingga lengkap sudah berjudul 'Tentang Kita' Setidaknya dengan menguraikannya, ini akan menjadi Cerita Nostalgiamu dengan Buku-buku-mu, apakah kamu sama seperti diriku yang pernah mengidap penyakit-penyakit terhadap buku ? Jika pernah, segeralah berobat dan bertaubat. Kamu bisa menuliskannya di kolom komentar ini, atau kamu dapat menguraikannya di mushaf yang kamu suka. Aku menantikan coretannya. ^_^
Sampai jumpa di lain kata.
#Sebagian tulisan dikutip dari novel dan pengalaman nyata.
Sampai jumpa di lain kata.
#Sebagian tulisan dikutip dari novel dan pengalaman nyata.
# dott
'Demi Pena dan Segala yang dituliskan-Nya'




