PERSEPEKTIF HARTA DALAM ISLAM
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga).”
(QS.Ali Imran 14)
Bismillahirrahmanirrahiim,..
Firman Allah Surat Ali Imran ayat 14 di atas menjadi dasar bagi kita selaku muslim untuk berfikir, bersikap dan bertindak ketika dihadapkan dengan keanekaragaman hidup, salah satunya yaitu harta. Siapa yang tidak merasa senang ketika seseorang dihadapkan dengan kondisi kelaparan bahkan hampir merasa tak bernyawa, di tengah usahanya ia mendapatkan harta yang tidak ia sangka-sangka. Ilustrasinya sebagai berikut ;
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang
laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang
tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia
melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya.
Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun
memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia
berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa
yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga.
Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang
itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa
ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa
sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya. Apakah Anda mau
menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun
dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak)
ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera
mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah
mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari
perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir
sebesar telur burung dara’.
Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka
ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya
melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, ‘Tahukah engkau
berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang
pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera
pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di
bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab
salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu
sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya.
Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku
menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang
juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada
si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu
memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata,
‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi,
pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi
dariku’.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu
berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang
berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta
itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada
masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk
disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta.
Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk.
Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil
enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya
berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala
telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan
20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath
daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.
Subhanallah, kisah di atas memberikan banyak sekali
makna bagi kita yang masih memakai kaca mata usang dalam memandang Harta. Siapa
yang tidak akan merasa senang jikalau hartanya bertambah, dan siapa yang tidak
akan merasa marah ketika hartanya terampas atau berkurang. Jawabannya tentu
akan beragam sebagaimana keanekaragaman paradigma orang-orang dalam memandang
harta. Namun sungguh Allah Maha Mengetahui akan kebutuhan hamba-hamba-Nya. Dan
Allah menjawab semua permasalahan itu dengan menghadirkan Dien-Nya yaitu Islam.
Tafsir Ibnu katsir menjelaskan Ayat ini yang
berkenaan dengan Harta (Qintar) bahwa
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad Ibnu Asim, dari Abu
Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda
;
“Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah,
tiap-tiap auqiyah lebih baik dari pada apa yang ada diantara langit dan bumi”
Juga Ibnu Murdawaih ibnu Ibrahim,
dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah
Saw pernah bersabda ;
“Barang siapa yang membaca seratus
ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa
yang membaca seratus ayat sehingga seribu ayat, maka ia akan memliki satu
qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah
bukit yang besar”
Ada dua Pressure Point yang dapat
kita pahami dalam QS.Ali Imran Ayat 14 dan Penjelasan Tafsirnya yang penulis
kutip dari Kitab Ibnu Katsir, Yaitu Kuantitas dan Kualitas suatu harta.
Allah menerangkan bahwa manusia
akan merasa senang dengan memiliki harta yang banyak sejenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan sebagai Taukid dari
ayat ini di akhir Allah menegaskan bahwa ‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik.’ Antara kuantitas dan kualitas jelas berbeda pemaknaannya, namun
cara memperolehnya sama yaitu dengan Ikhtiar atau Usaha.
Dalam kisah yang di ilustrasikan di
atas, kita dapat menyaksikan bagaimana usaha seorang suami dalam mencari harta
berwujud (uang, makanan, binatang ternak dkk) dengan berbekal harta yang tak
berwujud (Optimis, Mengutamakan kepentingan orang lain, dan Keyakinan akan
Ketetapan Allah terhadap hamba-Nya yang berusaha)
Sehingga diakhir cerita Kualitas
dan Kuantitas harta berwujud dan tak berwujudnya Allah tambahkan dengan limpahan Harta yang tidak di
sangka-sangka.
Mafhum mukhalafah dari tulisan ini
dapat kita simpulkan bahwa, Harta menjadi fitrah bahkan kesenangan
keberadaannya bagi manusia, bahkan Allah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk
berusaha mencarinya. Yaitu dengan jalan-jalan yang telah ditetapkan dalam
Kalam-Nya. Dengan berpedoman pada Al-quran dan As-sunah-Nya
Kita tidak hanya memiliki Harta
secara kuantitatif tetapi ada hal yang lebih indah yaitu secara kualitatif. Dan
akan lebih indah jika keduanya bersanding (Kuntitatif dan Kualitatif)
sebagaimana firman-Nya ‘‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik.(surga)’
Semoga Bermanfaat. n_n
