Selasa, 06 September 2016

BRAMANTA (Pengembara)



Pengembara
Hidup mengembara
hari ini ada di rimba
esok hari jelajahi sahara
matahari mengikuti perjalananku
bulan mengawasi tidurku

mereka bilang pengembara adalah mereka yang tersesat
Berhari-hari tak jua temui jalan pulang
tapi aku ingin mengembara
aku ingin tersesat
aku ingin mencari apa yang sesungguhnya ingin ku jalani
aku ingin mencari jawaban yang tak bisa dijawab
aku ingin tahu mengapa Tuhan ingin aku membaca

Tidak,...
tidak semua pengembara adalah mereka yang tersesat
pengembara tahu apa yang mereka lakukan
pengembara tahu kemana kaki akan dilangkahkan.

#Sebuah Prolog dari Kepala Suku Mapala Bramanta (ganyonk) untuk celotehan ini.. ^_^
#Mt.Guntur 2249 mdpl

Minggu, 28 Agustus 2016

Tentang Kita ?!

Sebuah penggalan dialog dari novel 'Perpustakaan Kelamin' menggelitik di tangan untuk menguraikan jawaban. "Hariang, membaca itu berarti berhutang. Jika kamu menciptakan sesuatu dari yang kamu baca, itu berarti kamu telah melunasinya." ujar Ambu Hariang yang juga mengutip sabda George Christophe Litchtenberg.

Aku berpikir bahwa tulisan ini akan sama isinya seperti bait dalam lagu band ternama indonesia, Peterpan (kini menjadi No,ah), membincangkan lalu lalangnya waktu yang meninggalkan kenangan tawa dan genangan air mata. (Kiiw)

Atau tentang cerita-cerita romansa dua insan muda yang sedang banyak digandrungi. Tapi, aku menepis pikiran demikian. Ini bukan tentang itu, melainkan tentang KITA (Kamu, Aku, dan Buku).

Dimulai dari Buku. Pernahkah kamu membaca buku tentang buku ? konon buku ini ada banyak, tapi aku sendiri belum pernah membacanya, aku hanya tahu ketika suatu novel sedang memperbincangkannya. Zaman dahulu buku termasuk barang mahal, semacam 'gengsi intelektual' tidak semua orang bisa memiliki, tidak semua pesan bisa dibukukan. Biasanya yang dibukukan adalah maklumat raja dan undang-undang, atau pun cerita yang meninggikan kemuliaan raja.
Bagaimana tidak mahal ? saat pembuatannya pun dibuat dengan cara ditulis tangan, dengan susah payah, lama dan terbatas, hanya kaum terpelajar dan kaya saja yang bisa memilikinya. Karenanya benar pepatah bijak bertutur-kata "Hanya orang yang tahu harga-lah, yang dapat Menghargai".
Selanjutnya adalah Aku. Dahulu, aku adalah manusia yang tidak mampu menghargai buku layaknya buku. Entah warisan dari siapa, atau tertular pergaulan teman yang mana, ketika di usia sekolah dasar penghargaanku terhadap buku dapat dikatakan Bibliokas, yaitu kecenderungan untuk menghacurkan buku baik dalam skala kecil atau pun besar. Suatu ketika sedang maraknya musim lipat-melipat kertas menjadi bentuk pesawat yang diterbangkan dengan cara diberi udara (hah) lalu dilemparkan, atau ketika musim origami terjadi, sampul-sampul buku menjadi perhatianku. Al-hasil buku-buku telanjang tanpa baju. Lalu, semasa SMA yang ketika itu metode pembelajaran di kelas memiliki budaya belajar Fuckavorit dengan 'Lembar Kegiatan Siswa' aku mengidap Bibliomania, Pribadi yang senang membeli buku hanya untuk ditumpuk, bukan untuk diambil makna. Hal ini terus berlanjut agak lama sampai memasuki masa pertengahan kuliah, aku senang membeli buku-buku untuk ditumpuk ketimbang dibaca, anehnya ketika buku itu bersumber dari hasil pinjam, aku menuntaskannya dengan tidak berlama-lama, Sungguh aneh ! dan istilah untuk penyakit demikian belum diketemukan. 

Penyakit Bibliomania ini ternyata memiliki saudara yang bernama Biblionarsisis, mengoleksi buku-buku yang beredisi lengkap tak terlewat, ditempatkan di rak khusus, hanya untuk berlagak, terlihat keren,legeg, pamer atas buku yang dikumpulkan. Edan !
Semasa SMA pun, aku sedikit mengidap Bibliofagi yaitu memakan buku dalam arti sesungguhnya. Kambuh saat musim ujian, aku berbekal atau lebih tepatnya dibekali (sssst) beberapa carik kertas yang berisikan jawaban-jawaban ujian, ya ujian. Bukan jawaban kehidupan. Kala itu, sosok guru yang bernama lain Pengawas Ruangan memasang tatapan mata layaknya mata elang, menyapu tajam setiap siswa yang sedang diuji bencana, bencana penetapan jati diri (antara niron atau tidak). Berlama-lama dengan menit perjuangan, pikir tak mau dinetralisir terus memanas tak bisa didinginkan terhadap pertanyaan-pertanyaan ujian, dan secarik pun menjelma menjadi sebuah trik. Jawaban mulai terurai tiap soalnya, hasil copy paste manual sianak bengal. 
Namun, curang pun tak ber-Tahan lama, melainkan ber-Tuhankan fana, aromanya mulai tercium, terkunci pada radar mata elang yang siap menikam. Sejurus kemudian posisi pengawas semakin mendekat menapaki jalur yang sudah dipeta-kan untuk menerkam buruan. Dan radar kewaspadaanku tak mau kalah berpacu, segera aku sirnakan bukti-bukti atas kebiadabanku pada ilmu dengan menelan carik-carik trik. (Jangan meniru adegan ini, hanya dilakukan oleh anak bengal) :D
Penyakit aneh pun masih menimpa sikapku terhadap buku, kali ini Bibliokleptomania, adalah suka mencuri buku, baik dirumah teman, toko buku, dan perpustakaan. Untuk toko buku mudah-mudahan itu takkan pernah terjadi.  
Ceritanya seperti ini, mencuri buku secara sebenarnya, sebetulnya tidak pernah dan takkan pernah. Ini terjadi ketika aku meminjam buku kepada teman atau perpustakaan dengan waktu tak terbatas, tak ada kabar, dan itu bukanlah hal yang wajar, layaknya mencuri.
Kasus Bibliokleptomania sesungguhnya, pernah terjadi yang dilakukan oleh Stephen Carrie Blumberg. Dia adalah pencuri buku kelas kakap, bahkan pencuri paling lihai dan hebat di abad ke-20. Dari perpustakaan yang pemeliharaannya manual sampai paling canggih, telah mampu dibobolnya. Tak tanggung-tanggung, dia telah mencuri buku antik dan kuno sebanyak 23.600 judul dari 238 perpustakaan di 45 Negara bagian Amerika dan Kanada. Ketika ditaksir, seluruh buku curiannya bernilai 20 juta dollar Amerika. Anehnya ia tak pernah mau menjual buku-buku curiannya. Pada tahun 1997, karena penghianatan temannya sendiri, ia ditangkap FBI (Ep Bi Ay), dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman 5 tahun 8 bulan penjara. Edan !

Saat lalu dan sampai saat dimana tak ada lagi yang menciptakan buku, aku berobat dan berTaubat atas penyakit dan sikap penghargaanku terhadap Buku.  Aku ingin menjadi seorang Bibliofil yang membeli buku dan mengambil makna sedalam-dalamnya. Atau menjadi Bibliotaf yang menaruh buku seaman-amannya dan berkeyakinan bahwa buku adalah harta yang maha penting. Selain orang yang dipercayai, siapa pun tak boleh menyentuh dan membaca buku-buku-ku. ^_^
Terakhir, adalah kamu ! ^_^ iya kamu, bagaimana ceritamu bersama buku ? Uraianmu akan menggenapkan tulisan ganjil ini., sehingga lengkap sudah berjudul 'Tentang Kita' Setidaknya dengan menguraikannya, ini akan menjadi Cerita Nostalgiamu dengan Buku-buku-mu, apakah kamu sama seperti diriku yang pernah mengidap penyakit-penyakit terhadap buku ? Jika pernah, segeralah berobat dan bertaubat. Kamu bisa menuliskannya di kolom komentar ini, atau kamu dapat menguraikannya di mushaf yang kamu suka. Aku menantikan coretannya. ^_^
Sampai jumpa di lain kata.
#Sebagian tulisan dikutip dari novel dan pengalaman nyata. 
# dott
'Demi Pena dan Segala yang dituliskan-Nya' 


Jumat, 12 Agustus 2016

Bertumbuh,..?



Repost tulisan Teman saat di Madrasah 
( Alm.Sidiq Abdul Aziz
'Allahumagfirlahu, warhamhu wa'afihii wa'fu 'anhu'
Konon survey membuktikan :
1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai (mubazir).
2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubazir.
3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong.
4. Sebuah Universitas, 70% materi kuliahnya tidak dapat diterapkan.
5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng tidak bermakna.
6. Pakaian dan peralatan dalam sebuah rumah, 70%nya nganggur tidak terpakai.
7. Seumur hidup cari uang banyak, 70% nya dinikmati ahli waris.

"Hidup ini seperti pertandingan bola" Babak Pertama adalah masa muda. Menanjak karena Pengetahuan, Kekuasaan, Jabatan, Usaha Bisnis, dsb.Babak kedua adalah masa tua. Menurun karena Darah Tinggi, Trigliserid, Gula Darah, Asam Urat, Kolestrol.... dsb.Semoga kita selalu Waspada dari babak Awal hingga Akhir, dan ending dengan kemenangan.
Karena itu :
|Tidak Sakit Juga Harus Check Up | Tidak Haus juga harus Minum | Tidak Galau juga Harus Cari Solusi | Benar Juga Harus Mengalah | Powerfull juga Perlu Merendah | Tidak Cape pun Perlu Rehat | Tidak kaya pun Perlu Bersyukur | Sesibuk Apa pun Juga Perlu Olahraga | 
Sadarlah, Hidup itu Pendek | pasti ada Saatnya Finish! | Jangan tertipu dengan usia MUDA | karena syarat mati tidak harus TUA | !Jangan terpedaya dengan tubuh dan badan SEHAT, | karena syarat mati tidak mesti SAKIT. | Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yang baik, walaupun tidak banyak orang yg memahamimu. | Jadilah seperti jantung, dia tidak terlihat,tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup sampai akhir hayat. | AJAL Tak Mengenal Waktu,Usia, jadi... Terus Berbuat Baik dan menyampaikan Kebenaran terhadap Sesama. | Wallahu a'lam bishowab,. ^_^
#Jumu'ah Mubarak
Sumber Gambar : investingreenstone.ca

Rabu, 03 Agustus 2016

Penghujung Syawal

Waktu, kau jalani dengan hal manfaat atau pun madharat
Tetap saja berjalan dan berlalu 
tanpa menunggu,
Tanpa kompromi,
Tanpa peristirahatan..
Kita boleh saja istirahat dr kemanfaatan
Kita boleh saja istirahat dr kemadharatan
Dan waktu akan tetap seperti itu,.. 
Dengan warna yg mana akan kita isi?
#Penghujung Syawal

Selasa, 02 Agustus 2016


SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DUNIA AKHIRAT....🤗👌

Sekitar Empat tahun yang lalu tepatnya di awal Ramadhan 1433 H Saya mengikuti kuliah subuh di Masjid dekat rumah. Ustadz yang berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama. Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana. Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini. Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas? Rektor menjawab, _"paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, D3 3 tahun atau S1 4 tahun, S2 sekitar 1.5 - 2 tahun, dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi."_ _"Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?"_ Tanya Sang Ulama. _"Iya!!!"_, jawab rektor tersebut. _"Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat?"_ Tanya kembali Sang Ulama. _"Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya."_ _" Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami."_ Jawab si rektor.

_"Jika Lulus SMP bagaimana?"_
_"Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service,"_ jawab kembali si rektor.
_"Kalau SMA bagaimana?"_
_"Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan"_ lanjut si rektor.
_"Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?"_ Bertanya kembali Sang Ulama.
_"Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan"_ kata si rektor.
_"Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya?"_ Tanya kembali sang Ulama. 
_"Iya betul !!!!"_ jawab si rektor.
_"Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan"_ _"Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz?"_ Tanya Sang Ulama.
_"In shaa Alloh bisa"_ jawab si rektor dengan yakin. 
_"Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?"_ Kembali tanya Sang Ulama. 
_"Tidak ada !!!"_, jawab si rektor.
_"Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?"_
_" Bisa !!!"_, jawab si rektor. 
_"Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?"_
_" Tidak ada !!!"_, jawab kembali si rektor.
_"Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik?"_ Tanya kembali ulama tersebut. 
_"Tidak ada !!!"_, jawab si rektor. 
Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama.
_"Anda mulai paham maksud Saya?"_
_" Ya !!!"_, jawab si rektor.
_"Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?"_
_" Kurang lebih 2-3 jam"_ jawab si rektor.
Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor...
_"jika Anda ingin mencetak generasi yang cerdas, bermartabat, bermanfaat bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari orientasi dunia menjadi mengutamakan orientasi akhirat karena jika Kita berfokus pada akhirat inshaa Alloh dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat.Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, Alloh akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya. "_
_"Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena Alloh yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an.Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan Alloh dan Alloh sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan. "_
_"Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan."_
Itulah pesan Sang Ulama kepada rektor tersebut.
Mari kita didik diri dan keluarga kita dengan Sistem Pendidikan Terbaik. Semoga bermanfaat, dan dapat dijadikan rujukan bagi guru dan orang tua kaum muslimin.
Silahkan dishare agar semakin banyak yang terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al-Qur'an dan as sunnah. Yuuk ,.. ^_^
Sumber ; Grup Whatsapp

Minggu, 31 Juli 2016

#Cemburu,.. ^_^
Tenggelam dikedalaman biru ku coba temukan kuning,.. 
dengan berbekal merah, putih terlindungi,.. 
sehingga hitam tetap legam mengggoreskan kalam,. 
di padang hijau aku terpukau menyaksikan burung yang tak pernah mrung,. 
melepas gelombang-gelombang merdu ber'amplitudo syahdu,.. 
meski bahaya mengintai, 
mereka tetap santai dengan angin yang lembut membelai,..

ohhh,... aku cemburu...
#dott

Minggu, 20 April 2014

PERSEPEKTIF HARTA DALAM ISLAM



PERSEPEKTIF HARTA DALAM ISLAM
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” 
(QS.Ali Imran 14)

Bismillahirrahmanirrahiim,..
Firman Allah Surat Ali Imran ayat 14 di atas menjadi dasar bagi kita selaku muslim untuk berfikir, bersikap dan bertindak ketika dihadapkan dengan keanekaragaman hidup, salah satunya yaitu harta. Siapa yang tidak merasa senang ketika seseorang dihadapkan dengan kondisi kelaparan bahkan hampir merasa tak bernyawa, di tengah usahanya ia mendapatkan harta yang tidak ia sangka-sangka. Ilustrasinya sebagai berikut ;
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya.
Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara’.
Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, ‘Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, ‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku’.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk. Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.

Subhanallah, kisah di atas memberikan banyak sekali makna bagi kita yang masih memakai kaca mata usang dalam memandang Harta. Siapa yang tidak akan merasa senang jikalau hartanya bertambah, dan siapa yang tidak akan merasa marah ketika hartanya terampas atau berkurang. Jawabannya tentu akan beragam sebagaimana keanekaragaman paradigma orang-orang dalam memandang harta. Namun sungguh Allah Maha Mengetahui akan kebutuhan hamba-hamba-Nya. Dan Allah menjawab semua permasalahan itu dengan menghadirkan Dien-Nya yaitu Islam.
Tafsir Ibnu katsir menjelaskan Ayat ini yang berkenaan dengan Harta (Qintar) bahwa
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad Ibnu Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda ;
“Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, tiap-tiap auqiyah lebih baik dari pada apa yang ada diantara langit dan bumi”
Juga Ibnu Murdawaih ibnu Ibrahim, dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda ;
“Barang siapa yang membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa yang membaca seratus ayat sehingga seribu ayat, maka ia akan memliki satu qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah bukit yang besar”
Ada dua Pressure Point yang dapat kita pahami dalam QS.Ali Imran Ayat 14 dan Penjelasan Tafsirnya yang penulis kutip dari Kitab Ibnu Katsir, Yaitu Kuantitas dan Kualitas suatu harta.
Allah menerangkan bahwa manusia akan merasa senang dengan memiliki harta yang banyak sejenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan sebagai Taukid dari ayat ini di akhir Allah menegaskan bahwa ‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.’ Antara kuantitas dan kualitas jelas berbeda pemaknaannya, namun cara memperolehnya sama yaitu dengan Ikhtiar atau Usaha.
Dalam kisah yang di ilustrasikan di atas, kita dapat menyaksikan bagaimana usaha seorang suami dalam mencari harta berwujud (uang, makanan, binatang ternak dkk) dengan berbekal harta yang tak berwujud (Optimis, Mengutamakan kepentingan orang lain, dan Keyakinan akan Ketetapan Allah terhadap hamba-Nya yang berusaha)
Sehingga diakhir cerita Kualitas dan Kuantitas harta berwujud dan tak berwujudnya Allah tambahkan  dengan limpahan Harta yang tidak di sangka-sangka.
Mafhum mukhalafah dari tulisan ini dapat kita simpulkan bahwa, Harta menjadi fitrah bahkan kesenangan keberadaannya bagi manusia, bahkan Allah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berusaha mencarinya. Yaitu dengan jalan-jalan yang telah ditetapkan dalam Kalam-Nya. Dengan berpedoman pada Al-quran dan As-sunah-Nya
Kita tidak hanya memiliki Harta secara kuantitatif tetapi ada hal yang lebih indah yaitu secara kualitatif. Dan akan lebih indah jika keduanya bersanding (Kuntitatif dan Kualitatif) sebagaimana firman-Nya ‘‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.(surga)’
Semoga Bermanfaat. n_n