Minggu, 20 April 2014

PERSEPEKTIF HARTA DALAM ISLAM



PERSEPEKTIF HARTA DALAM ISLAM
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” 
(QS.Ali Imran 14)

Bismillahirrahmanirrahiim,..
Firman Allah Surat Ali Imran ayat 14 di atas menjadi dasar bagi kita selaku muslim untuk berfikir, bersikap dan bertindak ketika dihadapkan dengan keanekaragaman hidup, salah satunya yaitu harta. Siapa yang tidak merasa senang ketika seseorang dihadapkan dengan kondisi kelaparan bahkan hampir merasa tak bernyawa, di tengah usahanya ia mendapatkan harta yang tidak ia sangka-sangka. Ilustrasinya sebagai berikut ;
Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepala kawannya.
Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.
Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut
Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara’.
Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepada isterinya, ‘Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.
Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, ‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku’.
Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk. Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain.

Subhanallah, kisah di atas memberikan banyak sekali makna bagi kita yang masih memakai kaca mata usang dalam memandang Harta. Siapa yang tidak akan merasa senang jikalau hartanya bertambah, dan siapa yang tidak akan merasa marah ketika hartanya terampas atau berkurang. Jawabannya tentu akan beragam sebagaimana keanekaragaman paradigma orang-orang dalam memandang harta. Namun sungguh Allah Maha Mengetahui akan kebutuhan hamba-hamba-Nya. Dan Allah menjawab semua permasalahan itu dengan menghadirkan Dien-Nya yaitu Islam.
Tafsir Ibnu katsir menjelaskan Ayat ini yang berkenaan dengan Harta (Qintar) bahwa
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad Ibnu Asim, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah bersabda ;
“Satu qintar adalah dua belas ribu auqiyah, tiap-tiap auqiyah lebih baik dari pada apa yang ada diantara langit dan bumi”
Juga Ibnu Murdawaih ibnu Ibrahim, dari Musa, dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda ;
“Barang siapa yang membaca seratus ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai; dan barang siapa yang membaca seratus ayat sehingga seribu ayat, maka ia akan memliki satu qintar pahala di sisi Allah. Satu qintar pahala sama banyaknya dengan sebuah bukit yang besar”
Ada dua Pressure Point yang dapat kita pahami dalam QS.Ali Imran Ayat 14 dan Penjelasan Tafsirnya yang penulis kutip dari Kitab Ibnu Katsir, Yaitu Kuantitas dan Kualitas suatu harta.
Allah menerangkan bahwa manusia akan merasa senang dengan memiliki harta yang banyak sejenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, dan sebagai Taukid dari ayat ini di akhir Allah menegaskan bahwa ‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.’ Antara kuantitas dan kualitas jelas berbeda pemaknaannya, namun cara memperolehnya sama yaitu dengan Ikhtiar atau Usaha.
Dalam kisah yang di ilustrasikan di atas, kita dapat menyaksikan bagaimana usaha seorang suami dalam mencari harta berwujud (uang, makanan, binatang ternak dkk) dengan berbekal harta yang tak berwujud (Optimis, Mengutamakan kepentingan orang lain, dan Keyakinan akan Ketetapan Allah terhadap hamba-Nya yang berusaha)
Sehingga diakhir cerita Kualitas dan Kuantitas harta berwujud dan tak berwujudnya Allah tambahkan  dengan limpahan Harta yang tidak di sangka-sangka.
Mafhum mukhalafah dari tulisan ini dapat kita simpulkan bahwa, Harta menjadi fitrah bahkan kesenangan keberadaannya bagi manusia, bahkan Allah menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berusaha mencarinya. Yaitu dengan jalan-jalan yang telah ditetapkan dalam Kalam-Nya. Dengan berpedoman pada Al-quran dan As-sunah-Nya
Kita tidak hanya memiliki Harta secara kuantitatif tetapi ada hal yang lebih indah yaitu secara kualitatif. Dan akan lebih indah jika keduanya bersanding (Kuntitatif dan Kualitatif) sebagaimana firman-Nya ‘‘Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.(surga)’
Semoga Bermanfaat. n_n

Tidak ada komentar: